Nov 7, 2022

,

Guru yang Berhenti Belajar, Sebaiknya Berhenti Mengajar



Setelah membaca pidato sambutan Ki Hadjar Dewantara dan menonton video pendidikan zaman kolonial dapat saya simpulkan bahwa gagasan-gagasan filosofis Ki Hadjar Dewantara telah menjadi fondasi yang amat kokoh dalam praktik pendidikan di Indonesia.

Namun bagaimana  pemikiran-pemikiran itu terbentuk tidak serta-merta terjadi dalam sekejap mata, melainkan melalui sebuah perjalanan panjang, yaitu mulai dari zaman sebelum hingga setelah kemerdekaan.

Mari kita kembali ke masa lampau sebentar.

 

Pada masa kolonial Belanda pendidikan semata-mata hanya berupa pendidikan intelek. Di mana mereka hanya mementingkan pengajaran yang intelektualitas dan materialistis. Rakyat diberikan pengajaran membaca, menulis, dan berhitung tetapi hanya seperlunya saja. Mengapa demikian?

Karena Belanda menjadikan Indonesia sebagai objek perdagangan mereka, sehingga tujuan dari pengajaran pada saat itu untuk mendidik orang-orang untuk membantu dalam beberapa usaha Belanda di Indonesia.

Namun, di samping tujuan pembelajaran yang semata-mata hanya untuk memperbesar keuntungan dan kekayaan bangsa Belanda, saya tidak menganggap pendidikan dan pengajaran ala Belanda mutlak dikatakan buruk.

Di balik itu, kita tetap dapat memetik banyak ilmu pengetahuan dari apa yang mereka ajarkan. Hanya saja perlu diingat bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat istiadat dan kebudayaan, sehingga pengajaran berbasis intelek saja tidaklah cukup tetapi juga harus ada pendidikan yang kultural.

Belenggu tirani bangsa Belanda inilah yang kemudian mendorong Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Bukti sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam membela kepentingan bangsa dan negara yang sampai sekarang masih ada adalah sekolah Taman Siswa di Yogyakarta.

Ki Hadjar Dewantara  memaknai pendidikan secara filosofi sebagai upaya memerdekakan manusia dalam aspek lahiriah  (kemiskinan dan kebodohan) dan aspek batiniah (otonomi berpikir dan mengambil keputusan).

Kedalaman filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tertuang dalam semboyannya yang berbunyi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,”  yang artinya di depan memberi contoh yang baik, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama pendidikan yang bergerak dinamis.

Dan sekarang di sinilah kita berada, di era abad ke-21.

Perkembangan pendidikan di Indonesia hingga abad ke-21 ini tentu tidak lepas dari peran Ki Hadjar Dewantara. Yang mana kita tahu nilai-nilai pemikiran Ki Hadjar Dewantara telah banyak diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Adapun kurikulum di Indonesia sendiri telah mengalami perubahan sebanyak kurang lebih 10 kali. Kemdikbud mengatakan bahwa kurikulum pendidikan selalu akan berubah sesuai perkembangan zaman.

Karenanya menurut saya seorang guru wajib untuk terus belajar agar bisa memahami tiap perubahan kurikulum baru untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Meski sudah berstatus guru profesional dan punya sertifikat profesi sekalipun, seorang guru tetap harus berguru.

Karena mau sebagus apapun kurikulum yang dikembangkan, kalau gurunya belum mampu mengimplementasikan kurikulum tersebut otomatis kegiatan belajar mengajar di kelas juga tidak akan bisa berjalan lancar.

Dengan kata lain, guru yang berhenti belajar sebaiknya berhenti mengajar.

 

Terima kasih