Dec 18, 2021

KOCO Schools dan Guru untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia



“Do you like to read?”

Kalau jawabannya “Yes,” maka selamat, Anda adalah orang yang beruntung. Sebab, membaca akan selalu menjadi bagian yang penting dalam banyak hal. Ambil saja contoh paling sederhana, ketika Anda melihat postingan di social media lalu Anda hanya membaca judul tanpa membaca caption postingan tersebut, maka Anda bisa menjadi orang yang tersesat bukan?

Yup, fenomena ini kerap saya temui ketika saya membaca kolom komentar pada postingan di social media. Ada saja komentar dari masyarakat yang terkesan tidak nyambung saking enggannya mereka membaca kata demi kata yang tertulis pada caption. Inilah yang membuat saya seringkali merasa miris dan lucu di saat bersamaan.

Saya sendiri mulai suka membaca ketika duduk di bangku 3 Sekolah Dasar. Saat itu sekolah saya baru saja dibangun perpustakaan. Ukurannya tidak luas dan buku-buku yang tersedia pun masih sangat terbatas. Namun, karena hadirnya perpustakaan adalah hal baru di sekolah, maka saya dan teman-teman lain pun sangat antusias. Ketika memasuki jam istirahat pun kami lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berlama-lama di kantin sekolah.

"Lalu bagaimana cara membangun kebiasaan membaca itu?" 
"Mulailah dari membaca hal-hal yang disukai."

Saat masih di bangku Sekolah Dasar saya suka sekali membaca cerita dongeng seperti kisah Si Kancil dan Buaya, Pinokio dan Boneka Kayu, Kumpulan Kisah 25 Nabi dan Rasul juga berbagai cerita lain yang tentunya kaya akan nasihat tentang kehidupan.

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai meninggalkan bacaan-bacaan tadi dan beralih ke bacaan lain seperti komik, cerpen, novel, hingga buku-buku ilmu pengetahuan. Lalu ketertarikan saya di bidang literasi semakin meningkat ketika duduk di bangku perkuliahan. Dari yang awalnya hanya membaca, saya akhirnya mulai tertarik untuk belajar menulis. Menulis dalam artian menghasilkan sebuah karya.

Mulanya hobi menulis ini saya lakukan secara sembunyi-sembunyi. Salah satu penyebabnya menulis kerap dipandang ‘sebelah mata.’ Bahkan bagi sebagian orang dianggap menyedihkan karena dinilai tidak memiliki teman bercerita hingga akhirnya memilih melampiaskan keluh-kesahnya lewat tulisan.

Kenyataannya, saya suka menulis karena melalui membaca dan menulislah saya bisa belajar banyak hal. Menulis menuntut saya untuk mempelajari hal-hal baru yang jarang ataupun tidak dipelajari oleh orang lain. Di sinilah saya mengalami kondisi dituntut dan ditantang secara bersamaan, yang ternyata hasilnya adalah menyenangkan.

Namun, apakah dunia literasi hanya sebatas baca-tulis saja?


Memasuki Abad ke-21, Ada 10 Jenis Literasi yang Harus Dikuasai

Kemdikbud telah menggalakkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sejak tahun 2016. Program ini dilakukan sebagai bagian dari implementasi Permendikbud No. 23 Th. 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Untuk menjalankan program ini, Kemdikbud membentuk kelompok GLN agar mengoordinasi berbagai kegiatan literasi di Indonesia.

Istilah Gerakan Literasi biasanya juga diidentikkan dengan upaya pemberantasan buta aksara. Pada masa sebelum kemerdekaan upaya pemberantasan buta aksara masih belum terlaksana secara maksimal, mengingat Belanda pada saat itu tidak bersungguh-sungguh dalam mencerdaskan rakyat Indonesia.

Program ini akhirnya mulai terorganisasi sejak periode awal kemerdekaan dan hingga kini angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan seiring dengan terlaksananya berbagai strategi yang dilakukan dalam upaya mengentaskan masyarakat kita dari buta aksara.

Pentingnya melawan buta huruf ini juga menjadi perhatian seluruh dunia. Pada konferensi umum UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) ke-14 yang dilaksanakan tanggal 26 Oktober 1966 menetapkan Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) diperingati setiap tanggal 08 September. Tujuannya untuk mengingatkan dan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya melek aksara.

Namun, sebagian besar orang beranggapan bahwa literasi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis saja. Faktanya, baca-tulis hanyalah satu dari beberapa literasi dasar yang harus dikuasai. Menurut UNESCO literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis, terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Artinya literasi memiliki cakupan yang lebih luas, bukan sekadar baca-tulis saja, akan tetapi juga kemampuan dalam memahami dan memproses informasi dari berbagai media sebagai sumber pengetahuan. Dalam hal ini literasi memegang peran penting dan semakin dibutuhkan di abad ke-21. Terlebih dalam bidang pendidikan, di mana pendidikan dianugerahi kepercayaan sebagai pencetak generasi-generasi yang unggul dan berkualitas. Kecakapan berliterasi amat penting dimiliki sebagai bekal bagi peserta didik untuk menghadapi berbagai dinamika dan meraih kesuksesan di masa depan.

Salah satu platform mengajar yaitu KOCO Schools telah merangkumkan 10 jenis literasi di abad ke-21 yang harus diajarkan oleh guru kepada peserta didiknya sebelum memasuki masa perkuliahan dan dunia kerja. Hal ini didasarkan pada pembaruan dan karakter generasi saat ini yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Penjelasan lengkap tentang 10 jenis literasi tersebut bisa Anda baca di SINI, sementara penjelasan singkatnya saya tampilkan dalam infografis berikut ini.



Tingkat Literasi Indonesia di Peringkat PISA (Programme for International Student Assessment)

Pentingnya peningkatan kemampuan berliterasi berbanding terbalik dengan realita tingkat literasi di Indonesia yang mengalami penurunan. Berdasarkan hasil survei PISA yang dirilis oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tahun 2018 dalam kategori kemampuan literasi, sains dan matematika, Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara. Fakta ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi di Indonesia masih sangat rendah. Di mana Indonesia berada di urutan 10 terbawah dari total 79 negara yang tergabung.

PISA sendiri merupakan program evaluasi yang dilaksanakan setiap 3 tahun sekali dan bertujuan untuk mengukur tingkat pendidikan di dunia dalam 3 kategori yaitu, literasi, sains dan matematika. Pada survei 2018 tersebut, kemampuan literasi Indonesia menempati peringkat 74 dengan skor rata-rata 371, kemampuan sains Indonesia menempati peringkat 71 dengan skor rata-rata 396, dan kemampuan matematika Indonesia menempati peringkat 73 dengan skor rata-rata 379.

Jika ditilik ke belakang, hasil evaluasi dalam 3 kategori ini mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan hasil evaluasi yang dirilis pada periode sebelumnya. Sebab pada tahun 2015, kemampuan literasi Indonesia masih menempati peringkat 64 dengan skor rata-rata 397, kemampuan sains menempati peringkat 62 dengan skor rata-rata 403, dan kemampuan matematika menempati peringkat 63 dengan skor rata-rata 386 dari total 71 negara yang tergabung. 

Data ini secara tidak langsung telah membeberkan sekelumit permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam bidang pendidikan.

"Lalu apa yang menjadi penyebabnya?"

Secara singkatnya mari kita lihat dari sudut pandang siswa dan guru.

Dari sisi siswa, salah satu faktor yang paling mendasar adalah kurang memaksimalkan pemanfaatan dari penggunaan teknologi. Sebab di tahun yang sama, Lembaga Riset Digital Marketing Emarketer menyebutkan penggunaan ponsel pintar di Indonesia pada 2018 mencapai lebih dari 100 juta orang. Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-4 pengguna aktif ponsel pintar di dunia. Hal ini tentu dapat berdampak positif jika saja penggunaan teknologi dimanfaatkan sebaik mungkin. Sayangnya, kebanyakan dari remaja lebih suka menghabiskan waktu untuk berselancar di social media daripada memperkaya diri dengan berbagai bacaan ilmu pengetahuan.

Sementara itu, dari sisi guru faktor yang paling mendasar ialah masih rendahnya tingkat kompetensi guru di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kemampuan guru meningkat tetapi masih jauh dari standar kompetensi yang diharapkan. Sebagian besar guru kesulitan dalam mendapatkan akses untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Hal ini umumnya dialami oleh guru-guru yang mengajar di pedesaan. Apalagi di masa pandemi ruang gerak sangat dibatasi.

Namun, kini baik guru di kota maupun di desa tetap dapat meningkatkan kompetensinya dengan cara mengoptimalkan penggunaan teknologi. Karena berbagai pelatihan dan webinar di era teknologi ini sudah bisa diakses secara online, seperti webinar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh KOCO Schools yang bertujuan untuk membantu guru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

 

Siap Berkembang Bersama KOCO Schools

Guru memegang peran penting dalam bidang pendidikan. Karena, dari seorang gurulah peserta didik mendapatkan banyak ilmu pengetahuan mulai dari kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung hingga pengetahuan lain yang tak terhitung jumlahnya.

Untuk itu, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia akan lebih baik jika dimulai dari guru, yakni dengan meningkatkan mutu dan kompetensinya agar menjadi pendidik yang profesional. Guna mewujudkan cita-cita ini, guru membutuhkan mitra yang mumpuni seperti KOCO Schools.

KOCO Schools adalah platform mengajar bagian dari KOCO yang bertujuan untuk membantu guru dalam mengelola pembelajaran di era pandemi Covid-19. KOCO sendiri adalah perusahaan EdTech yang berkembang pesat di Asia dengan kantor di Singapura, Indonesia dan India. Beberapa program unggulan besutan KOCO Schools di antaranya:


1. KOCO Schools Academy

Program ini menjadi wadah bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya sebagai pengajar yang profesional melalui webinar atau pelatihan. Ada beragam topik yang tersedia seperti metode pengajaran, keterampilan mengajar dan penerapan pengajaran di kelas.

Di program KOCO Schools Academy,  guru akan mendapatkan pembinaan dalam jangka waktu bulanan, triwulan, maupun tahunan dari para pakar dan praktisi pendidikan. Setelah mengikuti berbagai pelatihan dan webinar guru juga akan mendapat sertifikat yang tidak hanya sebagai bukti telah memenuhi kompetensi saja tetapi juga akan sangat berguna untuk keperluan administrasi lainnya.

2. KOCO LMS (Learning Management System)

LMS (Learning Management System) dibutuhkan dalam mengelola pembelajaran di masa pandemi yang berlangsung secara online dan offline. Keberadaan LMS tentunya dibutuhkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dari mulai persiapan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi. Guru dapat menggunakan LMS dalam mengintegrasikan data kelas, memantau proses belajar, otomatisasi penilaian dan pendataan hasil belajar, serta mengevaluasi kemampuan belajar peserta didiknya.

3. KOCO PISA QUIZ Bank

Selain dua program di atas ada juga KOCO PISA QUIZ Bank yaitu program yang menyediakan hingga 35.000+ soal-soal yang berfokus pada literasi, sains dan numerisasi.

Sebagaimana yang kita tahu, ketiga kategori ini masuk ke dalam survei evaluasi PISA. Meski evaluasi ini dilakukan setiap 3 tahun sekali, tetapi kita harus mempersiapkannya mulai dari sekarang untuk memberikan hasil yang terbaik.


Mulai dari Guru
Untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia

Data skor PISA membuka kesadaran bahwa ada banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini guru memegang peranan yang sangat vital untuk melakukan gerakan guna mendorong terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satunya melalui penanaman dan peningkatan semangat literasi dari dalam diri peserta didik sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, guru juga perlu melakukan peningkatan kompetensinya. Salah satu langkah yang dapat dipilih yaitu dengan mengikuti berbagai pelatihan dan webinar. KOCO Schools sebagai platform mengajar adalah mitra yang tepat untuk membantu peningkatan kompetensi seorang guru. Koco Schools dengan inisiasi #NoChildLeftBehind juga sejalan dengan program Kemendikbud Ristek selama dua tahun terakhir yang berfokus pada transformasi pendidikan dan pelatihan guru.

Maka dari itu, yakinlah! Mulai dari guru, kualitas pendidikan dan ranking PISA Indonesia di mata dunia dapat ditingkatkan.




Sosial media KOCO Schools

 

DISCLAIMER

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog KOCO Schools dengan Tema Literasi di Indonesia dan Skor PISA. Media pendukung berupa infografis diolah secara pribadi dengan menggunakan aplikasi Photoshop.




Referensi:

  1. Pengalaman pribadi
  2. Website resmi KOCO Schools (https://www.kocoschools.com/)
  3. Kemendikbud: Upaya Meningkatkan Literasi di Indonesia Melalui Gerakan Literasi Nasional (https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/)
  4. Litbang Kemendikbud. Ranking Pisa Indonesia (https://litbang.kemdikbud.go.id/pisa)
  5. Detiknews. Sejarah Hari Aksara Internasional. (https://news.detik.com/berita/d-5714952/hari-aksara-internasional-2021-ini-sejarah-dan-maknanya



Salam, sampai jumpa dan terima kasih